The Funny Side of Mr.Rudy Hilkya

Pak Rudy Hilkya adalah guru fisika di sekolah ku. Kalau menurut aku, Pak Rudy adalah seseorang yang suka memberi motivasi buat anak-anak muridnya, tidak hanya mengajarkan pelajaran fisika di sekolah. Dengan motivasi-motivasi yang diberikan beliau disela waktu pelajaran, apalagi saat anak murid lagi jenuh, motivasi itu dapat membuat kami lebih bersemangat lagi untuk mencapai tujuan hidup. Pak Rudy  juga sering mengaplikasikan (menghubungkan) materi pelajaran dengan contoh di kehidupan sehari-hari.

Pak Rudy adalah seorang yang dapat mencairkan suasana, misalnya saat pelajaran berlangsung para murid sedang ngantuk atau jenuh, Pak Rudy bisa melontarkan joke-joke yang bisa membuat kami tertawa.

Baca lebih lanjut

Iklan

Festival Seni Budaya Isen Mulang

GriyaWisata.Com-Provinsi Kalimantan Tengah berupaya menjaring wisatawan dengan menggelar Festival Budaya Isen Mulang di Palangkaraya, 19-24 Mei 2011. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah, Rudiansyah Iden, di Palangkaraya.

Pada acara pembukaan Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 19 Mei 2011 akan dimeriahkan tarian massal bertemakan Maju Utusku menggambarkan nilai luhur budaya Kalteng secara umum atau menggambarkan  masyarakat Dayak menuju kemajuan.

Baca lebih lanjut

Tari Manasai – Kal Teng

Tari Manasai merupakan tari yang melambangkan kegembiraan. Tari ini biasanya juga diadakan untuk menyambut tamu-tamu pemerintahan yang ke sana. Intinya tarian “selamat datang” untuk tamu-tamu yang berkunjung ke Kalimantan. Tari ini juga biasanya dipentaskan pada acara festival budaya Isen Mulang yaitu acara tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan dibantu oleh dinas pariwisata dan dinas-dinas yang terkait, tujuannya adalah menarik minat wisatawan untuk berkunjung serta memperkenalkan dan melestarikan budaya daerah sehingga masyarakat luar juga mengetahui budaya dari daerah lain. Hal tersebut akan memperkaya budaya nasional bangsa kita.


Baca lebih lanjut

Karungut – Kal Teng

Karungut dalam tradisi sastra Dayak Ngaju, karungut dikenal sebagai salah satu jenis puisi tradisional yang dituturkan dengan cara melantunkannya atau mendendangkannya secara lisan (oral poetry) pada acara-acara keramaian, acara adat atau di lingkungan pribadi seperti di dalam lingkungan rumah. Karungut berasal dari kata Karunya dalam bahasa Sangiang atau bahasa Sangen (bahasa Dayak Ngaju kuno) yang berarti sama dengan tembang, dandang gula, mijil, pangkur, dan asmaradhana di Jawa. Jenis puisi seperti ini diwariskan oleh nenek moyang mereka dalam bentuk lagu dan syair yang disusun sendiri (secara spontan) oleh penciptanya selama tidak menyimpang dari aturan (pakem) yang telah dianggap tetap atau baku oleh masyarakatnya.

 

Huma Betang Kalimantan Tengah

“Huma Betang”, mungkin dari kalian baru sedikit yang tau tentang huma betang atau rumah betang ini. Rumah betang adalah suatu bentuk fisik bangunan yang bisa menampung banyak orang, namun bagi masyarakat Kal-Teng dijadikan sebagai falsafah hidup yang mencerminkan pentingnya kerukunan, kebersamaan, saling menghormati, dan saling menjaga satu sama lainnya.

Pada masa lalu, kehidupan suku-suku Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan itu hidup secara berkelompok-kelompok. Di mana kehidupan yang mereka jalani pasti dilalui bersama, hal itu terwujud dalam sebuah karya yaitu, Huma Betang (Rumah Betang).

Betang memiliki keunikan tersendiri dapat diamati dari bentuknya yang memanjang serta terdapat hanya terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam Betang. Tangga sebagai alat penghubung pada Betang dinamakan hejot. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda Betang. Hampir semua Betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan.

Betang dibangun biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B), selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun serta anti rayap.

Betang biasanya dihuni oleh 100-150 jiwa di dalamnya, sudah dapat dipastikan suasana yang ada di dalamnya. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Di dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang dihuni oleh setiap keluarga.

Pada halaman depan Betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan Betang selain terdapat balai juga dapat dijumpai sapundu. Sapundu merupakan sebuah patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran yang khas. Sapundu memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang-binatang yang akan dikorbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga patahu di halaman Betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan.

Pada bagian belakang dari Betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada Betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang Betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah.

sumber