Bahaya Radiasi Radio Aktif

Gempa 9 Skala Richter yang mengguncang Jepang, Jumat pekan lalu, memunculkan ancaman bencana nuklir dengan tingkat radiasi radio aktif sangat tinggi di sekitar PLTN Dai-ichi, Prefektur Fukushima. Ancaman muncul setelah gempa meledakkan sejumlah reaktor nuklir di instalasi tersebut.

Masyarakat yang bermukim dalam radius 30 kilometer dari instalasi nuklir diminta mengungsi. Mereka yang berada di dekat zona rawan juga diminta berlindung di dalam rumah dan menutup semua ventilasi.

Seorang pakar kesehatan, Dr Richard Besser mengatakan kipas angin, AC, dan semua alat elektronik yang dapat membawa masuk udara ke dalam rumah juga harus dimatikan.
Besser mengatakan, paparan radiasi dari ledakan reaktor nuklir umumnya memiliki kadar yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Ini terbukti dari kasus di Fukushima yang menghasilkan paparan radiasi mencapai 1.000 millisieverts per jam, pada Rabu pagi, waktu setempat. Kadar itu 10 kali lipat dari batas aman.

Paparan radiasi tingkat tinggi dapat memicu sindroma radiasi akut (ARS). Sindroma ini ditandai dengan mual, muntah, diare, dan kerusakan kulit, hanya beberapa jam usai terpapar radiasi tingkat tinggi.

Dalam jangka panjang, paparan itu akan memicu kerusakan tulang sumsum, perdarahan internal, kanker, dan infeksi lainnya. Dalam kondisi paling buruk, penderita akan meninggal dalam beberapa bulan usai terpapar radiasi.

Besser mengatakan, hampir semua tubuh manusia mengandung unsur radiasi. Namun, dalam batas aman. Sekitar 80 persen terpapar radiasi dari unsur-unsur alam seperti uranium, thorium, radium, yang terkandung di tanah.

Sedangkan 20 persen terpapar dari sumber radiasi buatan manusia, seperti pengguaan sinar-X untuk terapi pengobatan. Selain alat-alat medis, unsur radiasi juga umumnya terpapar lewat sejumlah perangkat elektronik seperti lat pemanas, lampu, atau microwave.

One thought on “Bahaya Radiasi Radio Aktif

Komentar ditutup.